Ratna dan Realitas Objektivitas

Sore hari kemarin beredar berita tentang Tante Ratna kesayangan semua orang kena keroyok beberapa pemuda di Bandung. Kronologi yang diceritakan begitu lengkap.. kejanggalannya. Tapi ya itu, langsung tersebar dengan mulusnya di berbagai grup WA, termasuk grup-grup WA yang ada di lingkaran saya.

Terkejut.. bukan hanya dengan tindakan pengeroyokannya namun dengan respon beberapa orang yang pastinya bersebrangan dengan beliau.

“Harga yang pantas”

“Itulah karma karena sudah jahatin presiden”

Terkejut. Sungguh. Bagaimana mungkin kita memberikan respon seperti itu kepada orang yang (pada waktu itu sesuai berita yang beredar) menjadi korban pengeroyokan?

Terlepas dari pribadinya yang kontradiktif, yang cenderung tidak dapat saya pahami dasar pemikiran dan pertimbangan dari berbagai statement-statement beliau, menurut saya pengeroyokan siapapun korbannya bukan sesuatu yang bisa ditoleransi.

Itu tetap salah. Negara ini negara hukum dimana segala sesuatu perlu ditelaah bukti dan saksi menurut kitab hukum untuk diputuskan. Pengeroyokan adalah tindakan main hukum sendiri dan tidak dapat dibiarkan.

Apakah karena dia seorang tante Ratna maka pengeroyokan bisa dibenarkan?

Apakah empati hanya boleh diberikan kepada Jakmania korban pengeroyokan yang bahkan kita ngga tahu mungkin saja almarhum sempat menyulut emosi bobotoh juga?

Silakan kita renungkan bersama ya. Tempatkan diri kita atau orang terkasih kita pada posisi orang lain dapat memudahkan kita lebih objektif lagi menilai suatu kejadian. Jangan biarkan hatimu tumpul karena dunia yang semakin kejam ini, ya.

Pada akhirnya siang hari ini beredar kabar bahwa tante Ratna dan beberapa teman-teman komplotannya membohongi publik dengan fakta-fakta yang sudah terkonfirmasi membuat saya geleng-geleng kepala dan berkata dalam hati, semoga Tuhan sungguh mengampuni dosamu, Tante, Om dan Om panutannya.

Dan saya semenit kemudian duduk manis melihat-lihat menu G*-Food untuk dipesan di tengah hingar bingar kemayoran.

Complete objectivity is not an option. We are all subjective about the way we respond to ‘what is,’ whether it’s the people we encounter, the circumstances in our lives, or ourselves. What we can do is reduce our subjectivity – what I call ‘I see, therefore it is.’ -Elizabeth Thornton-

Semoga harimu menyenangkan hari ini. 😁

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s