Live My Life to The Fullest!

Alkisah di sebuah kehidupan jaman now yang hingar bingar, hiduplah seonggok daging dengan berat diatas rata-rata menjalani hidup perkotaan namun di pinggir kota.

Kehidupan yang sungguh penuh ramai menyisakan kesenduan kecil dalam hati.

Rasanya hampir semua perempuan atau bahkan onggokan daging lain merasakan hal yang sama sesuatu kali dalam hidup.

Kehidupan begitu mengherankan seperti ketika mendapati di explore instagram neng Rais yang notabene penyanyi beken ngisi kolom komentar #AntiPanglingPanglingiClub di salah satu post tentang Ses Megh yang nikah di UK sana.

Lucunyaa.. Nyetijen yang serba benar langsung memborbardir tanpa ampun komen neng Rais yang cuma berisi tagar itu. Menakjubkan ya? Betapa hidup di jaman sekarang harus lebih sabar. Kenapa? Karena dulu yang punya bakat penghakiman hanya bisa menghakimi anak buahnya, rekan kerjanya, saudara kandungnya, sepupunya, keponakannya, tantenya, omnya, sekarang mereka dengan sangat bebas berselancar di media sosial.

Padahal cuma tagar begitu. Soalnya emang Neng Rais salah satu korban para Nyetijen yang waktu dia nikah banyak juga yang komen : kok make up nya biasa banget? Kok.. kok.. kok? Ga tau lagii.. haha *aku ga bakat jadi nyetijen rasanya. Monmaap*

Hidup begitu sulit, sis!

Sekarang godaan untuk tampil begitu sempurna di media sosial untuk menghindari komen tajam begitu besar dan hampir sulit dibantah.

Sekarang, semua harus nampak baik dan benar menurut kacamata banyak orang yang nota bene memiliki nilai hidup yang berbeda, cara berpakaian berbeda, cara bekerja yang berbeda, bahkan cara ngupilpun berbeda. Akui saja, semua orang bahkan memiliki cara ngupil dan waktu ngupilnya masing-masing.

Hidup menurut cara pandang orang jaman sekarang rentan membuat kita setres, Sis.

Kamu juga merasakannya ngga?

Aku merasakan. Ya kita balik sedikit pada topik yang itu lagi itu lagi dari blog ini ya.

Pada saat pacaran lebih dari 5 tahun, ketika kami berdua masih santai.. mikirin mau jalan-jalan kemana abis ini, mikirin mau beli apa abis ini.. mikirin tempat makan mana lagi yang mau dikunjungi, tiap kali ke kondangan selalu ditanya, “kapan nyusul?” Ya kan. Kalau dibilang lelah ya lelah. Bukan lelah kapan nyusulnya, tapi lelah campur gemas, “urusanmu apa?” kayak pengen bilang gitu loh. Kasar kan ya? Huft.

Tapi karena aku agak darah biru, mengelolanya harus berkelas ya kan. Jadi kalau misalnya agak muda orangnya biasanya aku bilang, “Monggo, Mba nya duluan aja. Ngga usah nunggu saya, saya ngga mau nyusul sapa-sapa kok.”

Kalau orangtua atau yang lebih tua gimana jawabannya, Gi? Gini juga? Pengennya sih begitu. Tapi takutnya emak aku yang ngomel, aku dibilang ngga sopan. Doi galak soalnya. Pastinya dengan kepalsuan diatas rata-rata aku akan jawab, “Doain aja, Bu, Pak.”

Palsu? Iya sebenarnya aku ngga mau membiarkan orang mendikte apa yang harus aku lakukan dalam hidupku, tapi karena tuntutan darah biru ya harus berkelas dan elegan. Tanpa kita sadari ini membawa kekhawatiran dalam hati mengenai pilihan hidup setiap orang yang tidak harus sama arahnya, usianya, pun tolak ukurnya.

Di Indonesia sangat sulit memiliki pilihan hidup yang berbeda. Lebih sulit lagi kalau kita mudah khawatir dengan apa yang orang lain katakan tentang kita.

Jadi melalui tulisan ini aku mau mengajak siapa saja, terutama perempuan, iya aku tahu kalian berhati lembut sampai tidak tega menyakiti siapapun apalagi orang tersayang.. It’s okay to have different choices baik itu dengan pasanganmu, calon pasanganmu, temanmu, sesama perempuan, sesama seonggok daging pun dengan orang tua.

Tentang orangtua… ini bukan tentang kualat, tapi menurut saya lebih ke arah berbeda bahasa cinta. Terlebih yang lebih tua, mungkin mereka khawatir kalau nanti kita ngga ada yang menjaga, which is sejak jaman emansipasi kita memiliki kemampuan untuk menjaga diri dengan baik menurut segi finansial maupun emosional (seharusnya begitu, ya!)

Menuntut masyarakat ini berubah cara komunikasi pembuka dari, “kapan nyusul?”, “kapan punya anak?”, “kapan nambah anak lagi?” sepertinya agak mustahil soalnya udah jadi budaya. Iya sedih ya yang jadi budaya komunikasi dimulai dari “mengurusi urusan personal orang lain” jadi ngga heran bagaimana menjadi perempuan di negara ini syusah bukan main.

Kita ngga bisa mengubah yang datang, jadi yang bisa kita ubah adalah reaksi kita terhadap budaya yang berbeda ini.

Berdamailah dengan hatimu, ketahui langkah arahmu, jangan biarkan suara gemuruh membuatmu putar balik, sedikit menengok kiri kanan boleh lah, terkadang ini bisa menjadi penguat pilihan hidup.

Dan selamat mencoba! Akupun masih dalam proses, btw!

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s