Ketika Dunia Begitu Judgemental. Sabar ya! Ini Ujian :)

 

Kapan nikah?

Kok belum punya anak?

Kok pasangan kamu begitu sih sama kamu?

Kok dia cerai sih?

Aku agak nebeng isu Ahok cerai,  ahh!

Sebenarnya menjadi menarik adalah ketika sekumpulan orang berspekulasi penyebab, beberapa nangis di pojokan terisak seperti sedang mendengar pernikahan orangtuanya sendiri yang akan berakhir, beberapa sedang mengintip web lain yang mengatakan ini adalah rancangan, beberapa lainnya sedang bingung mencari tahu siapa itu Ahok (mungkin loh mereka ngga tau!)

Lalu saya sendiri masuk di kumpulan orang macam mana? Saya termasuk orang lugu yang merasa para wartawan kompas memiliki kredibiltas yang cukup lumayan lah sehingga tidak menyebarkan berita hoax.

Saya masuk dalam kumpulan orang yang berspekulasi penyebabnya karena pengen tahu aja. Ya iya lah, Ahok public figure idola. Pada akhirnya muncul surat yang diduga surat gugatan dan saya dengan keluguan diatas rata-rata percaya dengan surat gugatan itu benar adanya walaupun masih menjadi misteri adanya ketidak cocokan jumlah lembar gugatan yang disiapkan pengacara berjumlah 7 lembar, sedangkan yang tersebar di internet total hanya 6 lembar kalau halaman pertama biasanya memuat nama penggugat dan tergugat. Kemungkinan 1 lembar lagi : LAMPIRAN. As usual semua ada lampiran kan?  (ini enaknya bergaul dengan gerombolan yang merasa mereka detektif, bahkan sampai lembaran aja kita bisa merasa ini ada sesuatu yang mengganjal. Keren kan? HA!).

Saya masuk dalam kumpulan orang yang akhirnya berkesimpulan : oh ya mungkin saja Ahok dan Vero bercerai tapi saya tidak bilang bahwa isu Vero selingkuh itu benar adanya ya. Menjadi istri seorang Ahok bukan perkara mudah terlebih dengan integritasnya sebagai pemimpin daerah jaman old. Berangkat jam 4 pagi, pulang jam 11 malam, sabtu atau minggu masih sidak sana sini. Pas banjir sibuk kesana kemari buat memastikan kondisi warga Jakarta aman tentram, padahal semua orang waktunya sama-sama 24 jam. Mungkin warga Jakarta senang karena bisa “mengahbiskan waktu” sama Ahok lebih dari 12 jam sehari, hanya saja ada 4 orang dari warga jakarta minimal kehilangan 12 jam bersama Ayahnya. Ini konsekuensi. Iya. Saya memang masuk dalam kelompok yang agak realistis. Tolonglah. Semua punya konsekuensi. Kalau sampai keluarga Ahok terlihat begitu harmonis, bukan Ahoknya yang hebat. Anak-anak dan istrinya itu lho yang mengorbankan perasaannya. (Abis ini aku dihujat sama pemuja Bapak Ahok rasanya). Bahkan Ahok sendiri pun menyadari hal ini dia sampaikan pada surat cintanya kepada sang istri pujaan, “Sorry for take everything u did for granted

Tapi alasan kenapa Ahok akhirnya mengajukan gugatan cerai, ya udah biar urusan ko Ahok dan ci Vero. Cem mana anak ingusan yang baru masuk 3 bulan ngomentari yang udah 20 tahun lebih? sepak terjangnya jauh lah.

Udah yaa bahas Ahoknya. Ini hanya introduksi supaya pembaca tetap stay. Moga-moga abis ini juga stay. Apapun yang terjadi sama Ahok saya pengen tahu hanya karena public figure, tapi kalau sampai ada yang bilang, “ternyata Ahok ga sebagus yang gw kira” cuma karena perkara ini, iya kamu masuk dalam soal ujian hidup ko Ahok. Nah ini pokok bahasan tulisan kali ini.

Kita sering banget menyiksa jiwa orang-orang yang kita kasihi tanpa kita sadari. Kadang kita menjadi ujian hidup dari orang yang kita kasihi dengan pertanyaan simple macam diatas. Mulai dari “mendesak” kapan nikah, kapan mau punya anak, kapan mau nambah anak. Seakan hidup ini sangat sempurna ketika seseorang sudah menikah, sudah punya anak, nambah lagi, nambah lagi, dan lagi, tanpa kita berusaha memiliki empati pada orang lain.

Terkadang kita ga mau tahu kenapa seseorang belum mau menikah, tidak mau menikah, dan memilih untuk tidak memiliki pasangan. Bahkan dalam otak kita, kita sering merasa bahwa orang-orang yang tidak mau punya pasangan adalah orang yang aneh. Tidak umumnya. Terus ujung-ujungnya nanya, “ehh jangan gitu, ntar nyesel lhoo pas tua baru sadar.”

Kalau misalnya dia punya trauma masa lalu, trus kamu bilang, “kan ngga semua orang begitu!”

Kalau dia bilang dia biasa sendiri dan enjoy, lalu kamu bilang “ehh bener loh ntar nyesel dehhhh..!”

Kalau dia bilang dia belum ketemu yang pas, “lo terlalu pemilih, coba ngga pemilih!”

Beberapa orang yang tadinya udah fix mau hidup mandiri sendiri, akhirnya dibuat kepikiran karena lingkaran terdekatnya mengatakan dia akan menyesal di kemudian hari.  Kemudian ia buru-buru mencari pasangan, lalu menikah, lalu punya anak.

Trus dia jadi korban KDRT pasangannya, trus kamu bilang, “kok bisa sih lo ketemu lakik kayak gitu?”

Lalu akhirnya pasangannya ternyata peselingkuh ulung yang ahirnya ke-gep,  lalu kamu bilang, “lah kok bisa?”

Lalu ternyata pasangannya memiliki perilaku seks menyimpang, “ya ampunnn!”

Lalu akhirnya bercerai karena alasan ketidakcocokan. Lalu temennya nanya, “kok ceraii?”

Lalu berikutnya satu kantor/satu pertemenan atau keluarga besar tahu hal yang tadinya hanya diceritakan kepada kamu. Wohooooo!!!

Ya Tuhan.

Tolonglah.

Berhenti.

Berhenti untuk bersikap tidak memiliki empati.

Berhenti untuk mengambil bagian dalam urusan pribadi orang.

Berhenti untuk menghakimi kehidupan orang lain baik atau tidak baik dengan parameter pribadi kita sendiri.

Berhenti untuk judgemental.

Berhenti untuk menjadi ujian hidup untuk orang yang kamu sayangi (kalau benar kamu sayangi ya!)

Kebiasaan kita (iyalah saya termasuk!) memang memudahan kita untuk menjadi pribadi yang “peduli” sampai urusan orang lain, sampai masalah nikah ngga nikah, udah punya anak atau belum,  penghasilan suami orang lain atau istrinya yang lebih besar bahkan kita urusi.

Jika itu menjadi tanda pedulimu, berhentilah.

Beberapa jiwa suka tanpa sadar memasukkan komentar negatifmu dalam hati mereka, mempengaruhi kebahagiaan mereka dan pada akhirnya mereka kecewa dengan hidup mereka karena komentar negatifmu. Iya sebegitu dahsyatnya. Sungguh. Terlebih para kaum perempuan. Mereka mudah tersiksa dengan berbagai anggapan masyarakat, apalagi anggapan kamu, girlsquad-nya. Iya, banyak dari kami kelihatan tangguh di luar namun rapuh di dalam.

Jika kamu sungguh menyayangi mereka berhentilah bertanya. Seseorang yang sungguh menganggap kamu penting akan menceritakan hal yang menjadi kekhawatiran mereka. Sapalah mereka dengan mendengarkan dan bukan menghakimi dan pahamilah mereka dan bukan mengomentari. Biar bagaimana mereka adalah pribadi unik yang punya masa lalu yang tidak bisa dilepaskan dari hidupnya saat ini. Jadilah orang yang “membocorkan kunci jawaban ujian” dan bukan menjadi “soal ujian” 😉

Karena ujian kehidupan itu sulitnya dobel-dobel dibanding ujian sekolah. Soal yang sama datang berkali-kali kadang kita juga tetap ga bisa jawab.

Kan akan lebih mudah kalau ada yang bisa bantu “kasih kunci jawaban” yaa.

Untuk para perempuan, kudoakan kalian mendapatkan kebahagiaan yang hakiki sesederhana memiliki teman perempuan yang menjadi “pembocor kunci jawaban ujian hidup”. 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s