Karena Hidup (seharusnya bukan) Tentang “Per-susul-an” yang Imajiner

Ini judul layaknya judul artikel tidak berbobot tapi inilah kehidupan realita yang dihadapi kebanyakan kita.

“Dia aja umur 27 tahun udah jadi manager”

“Seneng yaa punya suami ada yang ngurusin”

“Duhh semoga aku lekas menyusul menikah tahun depan”

Iyaa ini yang akan sering terjadi.

Menjelang hari bahagiaku (cieee..ciee…), aku berusaha sebisaku untuk tidak mendoakan setiap pribadi yang single untuk “menyusul”ku segera.

Tapi kalau khilaf maafkan ya.

Kita sudah lama hidup di masyarakat yang melihat dan membandingkan dirinya dengan orang di sekitarnya, role modelnya, atau hmm bayangan imajinasinya berdasarkan perolehan orang lain.

Metode pikir yang seperti ini akan mendorong kita terbiasa untuk berbahagia ketika orang lain sulit dan sedih ketika orang lain senang.

Bagaimana tidak, kita melihat hidup kita seperti perlombaan lari dari orang-orang tertentu yang ada dalam imajinasi kita. Sehingga, ketika orang tersebut mendapatkan sebuah perolehan dalam hidupnya, pertamanya kita senang sih.. tapi lama-lama akan muncul, “ahh gitu doang aja udah bangga.. gw udah lebih dari dia di aspek lainnya aja biasa aja” atau bisa juga nih, “yahh gapapa lah dia mencapai itu, tapi gw kan lebih unggul karena gw punya A, B, … dan seterusnya”

Kita akan mulai terbiasa menghitung kemenangan dan kekalahan kita dengan orang lain yang dijadikan “lawan tanding” dalam kehidupan. Hidup kita terpacu maju karena kita merasa ketinggalan dari orang lain. Bekerja di kantor lebih baik untuk menjadi Manager bukan karena keinginan dorongan untuk berkontribusi dan mengembangkan diri namun karena sang lawan tanding sudah mencapai posisi itu terlebih dahulu.

Bangun tidur berdoa meminta untuk diberikan kemenangan dan perolehan bukan untuk mempersembahkan diri dan hidup lebih dalam kepada Tuhan namun untuk menyusul sang lawan tanding, untung-untung jika bisa mengungguli.

Bersenda gurau dan bertukar pikir dengan teman-teman sepergunduan bukan untuk melepaskan stres namun ternyata sedang mengukur kadar kemenangan dan kekalahan dengan teman sepergunduannya. Nah kan! Dalam hatinya diam-diam sedang berlomba dengan teman sepergunduannya itu sangat seru.

Motivasi dan dorongan untuk menjadi pribadi yang lebih baik….. dari orang lain.

Mengukur kemenangan dan kekalahan dari pencapaiannya….. dari orang lain.

Dimana.. setelah dipikir-pikir semua perlombaan ini IMAJINER alias hanya dalam imajinasi.

Saya tidak mau berbicara tentang jangan suka iri sama orang lain. Bawaan manusia yang ngga gampang puas itu emang ada. Fix. Saya juga merasakan hal yang sama kok.

Tapi, as fas as I know, Tuhan membentuk kita menjadi pribadi yang unik.

Dengan menempatkan hidup kita dalam sebuah track perlombaan kehidupan dengan teman imajinasi kita, kita telah merendahkan bahkan sampai pada level melakukan secara sadar meniadakan peranan Tuhan dalam hidup kita.

Kok yaa kamu tega-teganya membandingkan dirimu dengan ciptaan manusia lain? Wong Tuhan aja menciptakan tinggi hidungmu sama tinggi hidungnya aja beda.  Tuhan aja dengan sengaja membuat hidungmu agak mirip mamamu, matamu agak mirip papamu dan kadang dibuatnya ga mirip siapa-siapa (emang kadang bercandanya suka kelewatan si Tuhan ini, kasihan kan dia jadi bahan ejekan anak pungut)

“Membandingkan itu kan gapapa, selama kita ngga menyakiti orang lain dan menjadikannya motivasi”

Loh kamu itu sedang menyakiti hati Tuhanmu. Penciptamu. Piye toh.

“Kalau kayak gitu ngga bakalan bisa maju dong”

Iya itu memang imajinasi yang kita bangun. Itu tuh! KE.BI.A.SA.AN. Kebiasaan menaruh dan membiarkan imajinasi track lomba kehidupan meraja rela. Loh, kamu itu ciptaan Tuhan yang paling sempurna lohh.. *versi Andra and The Backbone atau versi Gita Gutawa? Haha!

Lah, Tuhan itu titipkan tugas untukmu. Tuhan titipkan talenta. Tuhan titipkan berkat. Masa iyaa dirimu maju karena orang lain maju. Piye toh. Yaa maju itu karena ungkapan syukur kepada Sang Pencipta. Maju itu ngga cuma karir, ngga cuma tentang sekarang single.. tahun depan harus punya pacar entah gimana caranya. Maju itu seluruh aspek kehidupan.

Nah pada akhirnya semua orang mempunyai track masing-masing. Emang yang bener harusnya begini haha!

Menyadari bahwa saya lebih baik….. dari kemarin.

Lebih dewasa…..dari tahun lalu.

Oke, ini sekelumit cerita kurang penting di H minus sekian hari. Moga-moga kita ketemu aku ngga basa basi super BASI yaa, seperti : “kapan nyusul?” dan semoga aku ga bete pas ada yang nanya, “rencana mau punya anak kapan?” – ini basi sih super lho!

Mari bikini hidup lebih hidup. Eh pada nyadar ngga sih itu aku nulis “bikini” bukan “bikin”

Sengaja. Alasannya? Iseng aja. Bye

Itu sekelumit cerita asal sore ini.

Udahlah, keluar dari track perlombaan imajiner kita.

Btw aku ketinggalan sesuatu.. jadi ini masuk revisi post ku diupdate Kamis, 26 Oktober

Dengan post ini aku doakan siapapun yang membaca mendapatkan kebahagiaan yang hakiki. Tidak bahagia karena menjadi lebih “unggul” dalam track perlombaan dengan orang lain.

Bahagialah. Tuhan mengasihimu dan titipkan sesuatu di dunia ini untuk diurus. 😉 May God bless you

With abundance of love,

Miss. Claudia Anggi

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s