Saya Tidak Berhak Menerima Cinta Sebesar Ini

17 Januari 2017, hari ke 12 pasca operasi lutut yang saya jalani. Nampaknya masa recovery 12 minggu belum separuh jalan.

Sebelumnya saya akan menjelaskan sedikit lebih rinci apa yang saya alami disini. Ini menjadi sebuah pilihan yang sudah saya tetapkan sesaat setelah operasi namun saya belum sempat menemukan angle cerita dari sekedar curhat yang membosankan. Karena blog ini salah satu rekaman yang ingin saya simpan untuk berbagai momen hidup penting saya.

Hal ini juga saya lakukan untuk orang-orang yang telah menyirami saya dengan banyak cinta selama proses operasi hingga saat ini memasuki hari ke-12 recovery.

Ceroboh. Itu nama tengah saya mungkin.

Dalam perjalanan panjang perubahan pola hidup, menjalani hidup menjadi lebih aktif bergerak fisik menjadi salah satu cara yang saya tempuh ketimbang membatasi makan makanan terlalu banyak. Karena saya cinta makanan. Hidup MAKAN!! 😀

Tanggal 20 Oktober 2016 adalah momentum saya memutuskan untuk melakukan aktivitas olahraga community-based yang ada di daerah Kelapa gading. Mengingat jadwal mereka cukup malam mulainya, jadi saya menyempatkan waktu ke gym dulu untuk ikut RPM. Sembari siap-siap mengobrolah saya dengan pria penggemar berat saya. Pas ngobrol-ngobrol gitu dia dah sempat bilang, “ingat nanti jangan lompat-lompat”. Dengan sangat yakin saya katakan, “Beres. Tau kok kalau itu berbahaya untuk orang bertubuh besar.”

Ceroboh, karena terlalu ketakutan badan tiap siap dengan sesi muscle strenghtening-nya saya akhirnya ikuti gerakan pemanasan mereka-jumping jacks. Ceroboh. Itu sungguh ceroboh karena saya tahu apa yang tidak boleh saya lakukan namun saya lupa dimana saya harus berhenti dan terus lanjut.

Setelah sesi jumping jacks selesai lutut kiri mulai berasa sakit. Nyeri sekali, apalagi kalau berjalan cukup panjang.

Long story short, setelah 3 bulan berlalu berisi penuh dengan diskusi dengan beberapa dokter Spesialis Dokter Olahraga, teman-teman sejawat yang sedang PPDS Ortopedi dan menyambangi 3 orang Dokter Ortopedi plus hasil MRI yang menyatakan adanya ruptur meniscus lateral dengan sugestif ada robekan di ACL serta treatment dengan NSAID selama 2 minggu yang tidak membuahkan hasil akhirnya dokter Ortopedi menyerankan operasi Arthroscopy untuk menindaklanjuti trauma yang terjadi.

Sebelum operasi Dokter yang cukup baik hati dan agak komunikatif ini sudah menjelaskan dengan sangat rinci mengenai adanya kemungkinan implan meniscus ataupun ACL baru dengan kisaran biayanya yang sangat besar dan adanya kemungkinan recovery panjang menggunakan crutches (kruk/tongkat).

Ditengah kegundahan mengenai proses operasi, excess biaya yang kemungkinan cukup besar dan proses recovery panjang, saya serahkan segala kekhawatiran ke dalam tangan Tuhan. Puji Tuhan proses operasi berjalan dengan lancar dan saya dapat menyaksikan lewat layar proses operasi memang berlangsung dengan cukup baik.

Pertanyaan yang sering ditanyakan: kenapa pakai crutches? Iya jadi ternyata dalam waktu 2 bulan kondisi meniscus yang robek mengikis tulang rawan di tulang paha saya. Untuk membantu pembentukan tulang rawan baru, Dokter harus “membobok” tulang paha saya dalam ukuran mikro supaya ada aliran darah yang merangsang pembentukan tulang rawan baru (microfracture surgery). Inilah alasannya. Untuk menjamin pembentukan tulang rawan baru dengan optimal, selama 6 minggu lutut kiri tidak boleh menerima beban sama sekali, dilanjutkan dengan 6 minggu berikutnya menerima beban parsial.

Jadi singkat cerita, saat ini saya bekerja dan beraktivitas dengan menggunakan crutches. Jadi terbatas? IYA. BANGET. Saya jadi lebih sering merepotkan mama, papa, adik, teman sepegunduan, rekan kerja dan orang-orang lain yang bersinggungan dengan pekerjaan saya. Setiap meeting saya selalu request lantai dasar (karena di kantor kami hanya 2 lantai, jadi tidak tersedia lift – hal ini juga yang sebelum ini saya syukuri karena bisa lebih banyak bergerak), setiap kali butuh sesuatu yang mengharuskan saya membawa sesuatu cukup berat saya harus minta tolong orang lain.

Di dalam proses recovery inilah saya menyadari bagaimana cinta dari orang lain begitu besar untuk saya. Terlalu besar.

Karena terkadang kita melihat kebaikan seseorang sebagai suatu timbal balik dari apa yang kita berikan kepada orang lain.

Sebelumnya saya jarang menyadari bahwa keluarga saya begitu mendukung saya dalam berbagai hal sampai saya sungguh merepotkan mama saya ketika saya harus mandi, merepotkan adik saya ketika harus mengerjakan pekerjaan rumah dan lain sebagainya.

Saya jarang menyadari bagaimana rekan-rekan kerja ternyata mendukung saya. Salah satu cinta mereka dengan keterbatasan saya untuk mengambil air di dispenser yang 10 langkah dari meja kerja saya, seorang rekan kerja memintakan kepada OB untuk menyediakan 1 pitcher air putih di meja kerja saya dan para mas-mas OB akhirnya selalu mengisikan pithcer air yang sama setiap pagi hingga hari ini. Bagaimana satpam-satpam sangat membantu saya menaiki tangga-tangga kecil di lobby kantor kami, bagaimana driver kantor juga membantu saya dengan memposisikan mobil menjadi lebih dekat ketika saya naik dan turun .

Saya jarang menyadari bagaimana teman-teman sepergunduan yang sudah saya anggap seperti saudara memiliki cinta yang begitu besar buat saya, mulai dari menemani di rumah sakit, main ke rumah untuk bersenda gurau pun menjadi salah satu orang yang diandalkan ketika Mama saya mengalami kecelakaan motor beberapa hari lalu, mendapatkan luka robek cukup panjang di kaki kiri, harus dilarikan ke rumah sakit sedangkan saya tidak bisa keluar rumah dengan sigap karena kondisi keterbatasan saya saat ini.

Di hari ke-12 sore hari ini, hati saya seperti dihantam ketika saya harus meeting dengan seseorang di daerah perkantoran Sudirman. Masuk ke lobby gedung pencakar langit itu dengan crutches sungguh menyita perhatian banyak orang, mulai dari satpam, hingga orang-orang yang berdiri di sekitar pintu keluar. Sembari menunggu yang ditunggu datang, saya memilih untuk berdiri karena tidak ada kursi disana, sedangkan satu-satunya coffee shop di gedung itu sedang cukup ramai sehubungan dengan adanya promo Buy 1 get 2. Cukup lelah berdiri 10 menit akhirnya saya nekad antri di coffee shop yang dimaksud. Antrian yang cukup panjang nyatanya harus saya jalani perlahan namun pasti. Rasa kesal sempat ada ketika antrian depan saya (dengan waktu tunggu antrian yang cukup panjang) masih belum tahu apa yang mereka mau pesan ketika sudah di depan kasir. Setelah memesan, untungnya ada tempat duduk kosong untuk saya menunggu. Tidak lama, minuman saya sudah jadi dan saya harus bergegas mengambil di meja pick up pesanan. Saya agak kaget ketika saya hendak berjalan mengambil kopi pesanan saya di meja itu, ada orang lain yang sedang berdiri menunggu di sekitar meja itu dan tetap berdiri disitu, sehingga saya terhalang saat mengambil kopi. Setelah duduk, pertemuan saya selesai, saya hendak keluar dari coffee shop ini untuk pulang kembali ke kantor. Dengan antrian yang super ramai dan meja yang cukup banyak di sisi lain membuat jalan saya semakin sempit. Saya kaget lagi ketika saya harus mengatakan permisi beberapa kali untuk membuat beberapa orang meminggirkan kakinya sedikit sehingga tidak terinjak crutches saya. Namun di jarak yang agak jauh dari langkah saya ada seorang pria paruh baya yang sedang duduk, langsung berdiri, meminggirkan kursi di sebelah kanan saya, memberikan ruang lebih banyak untuk saya berjalan, dan akhirnya dia bilang, “Let me help you with the door”. Dia buka pintu coffee shop itu dengan senyum dan membantu saya keluar dari coffee shop tanpa harus tersandung kaki-kaki orang lain.

Saya kesal sekali dengan beberapa orang yang tidak peduli dengan kondisi saya di coffee shop itu. Namun ternyata sore hari ini entah kenapa Tuhan menggerakkan hati saya lebih jauh lagi.

Jika saya tidak pernah berada dalam kondisi yang terbatas seperti ini, SAYA BISA JADI MENJADI SALAH SEORANG YANG BERADA DI DEPAN SAYA, DI SEKITAR MEJA TEMPAT MENGAMBIL PESANAN, ORANG-ORANG DALAM ANTRIAN ITU DENGAN KAKI MENJUNTAI, MEMBIARKAN SAYA MENJADI PENGHALANG ORANG LAIN.

Mencintai orang yang mencintai kita lebih mudah ketimbang orang yang tidak kita kenal.

Mengerti orang yang mengerti kita lebih mudah ketimbang orang yang tidak mengerti kita.

Memahami orang lain dengan keterbatasan yang terlihat jauh lebih mudah daripada memahami orang lain dengan keterbatasan yang tidak terlihat.

So I close this story with teary eyes. Huhu.

Di hari ke-12 ini saya menyadari saya tidak berhak menerima cinta yang sedemikian besarnya dari orang-orang terdekat maupun orang lain yang tidak saya kenal. Apa yang saya terima dari orang lain bukanlah sebuah timbal balik dari apa yang saya lakukan.

Jika saya sungguh berhak menerima cinta sebesar ini, bukankah orang-orang di barisan antrian itu akan dengan sigap menyingkirkan kakinya untuk saya tanpa saya minta? Bukankah mereka yang berdiri di sekitar meja itu akan membantu saya membawakan kopi saya ke meja, minimal memudahkan saya mengambil pesanan kopi saya?

Hanya Tuhan yang Maha Baik-lah yang menggerakan hati sedemikian banyak orang untuk memiliki kasih sedemikian banyak untuk saya.

Dengan sedemikian banyak cinta yang saya terima hingga kini, semoga saya bisa semakin banyak memberikan cinta juga kepada orang-orang yang begitu mengasihi saya maupun orang lain yang tidak saya kenal. Karena ada sebuah petikan alkitab yang mengatakan, jika engkau hanya mengasihi orang yang mengasihimu, pahala apakah yang kamu peroleh? Bukankah para pemungut cukai pun berbuat hal yang sama?

Semoga tulisan saya sore ini bisa membawa Anda dan orang-orang yang begitu Anda kasihi dan mengasihi Anda dalam permenungan yang lebih dahsyat lagi dari yang saya alami.

Tuhan Yang Maha Esa memberkati Anda sekalian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s