Let’s Make a Better Place

November 2016. 

Dalam bulan ini dan ke depan rasanya kita akan semakin banyak menyaksikan perpecahan antar genk, pertemanan, arisan ibu-ibu, bahkan perkumpulan siskamling bapak-bapak. Bukan cuma di Jakarta, atau daerah-daerah yang lagi hangat isunya tentang Pilkada, tapi hampir di semua daerah yang ngga ikutan Pilkada sekalipun.

Teknologi. Menurut pandangan cetek saya inilah salah satu faktor yang dapat menyebabkan berbagai perpecahan di banyak tempat yang seharusnya tidak ikut kena dampak suasana politik yang hangat. Saya menyebutnya: Pilkada Rasa Pilpres. Yang pilkada Jakarta, yang rame kayaknya ngga cuma di Jakarta. CMIIW.

Bukan suatu hal yang baru kalau ada kebiasaan copy paste dimana-mana. Saya ngga ngomongin skripsi, tesis pun kerjaan. Tapi ini masalah informasi entah darimana yang sering masuk ke grup “Arisan Emas Semilyar”, “Genk Sosialita yang Suka Ngupi Cantik di Kape”, “Gerombolan Jomblo sang Penakluk Wanita” atau entah berapa grup serupa di aplikasi pesan kita. Begitu kita baca, kita merasa heran, takut, dan khawatir kita merasa berkewajiban memberitahukan pada grup lainnya dengan alasan “membantu orang untuk lebih waspada”. Dari Grup arisan, ke grup teman-teman kuliah sampai grup “Rekan Sepergunduan” juga di-forward.

Sejauh pengalaman saya yang pendek ini, alih-alih membantu orang untuk lebih waspada, “perhatian” yang demikian malah membuat orang cemas dan ketakutan. Maka ngga heran beberapa teman langsung bikin status : “Unfriend untuk siapa aja yang kampanye, dsb” karena ini benar-benar ngga sehat buat jiwa kita.

Di dunia yang serba modern dan cepat ini, informasi sangat mudah didapatkan. Artinya, saat kita menerima informasi dari grup sebelah, bisa loh kita cek kebenarannya dari web-web yang terpercaya. Namun balik lagi, kadang ngga ada waktu untuk ini karena kita takut menjadi orang ke-sekian dalam pencapaian penyebar berita.

Saya masih ingat benar bagaimana kericuhan ngga penting yang disebarluaskan melalui banyak grup messenger pada saat bom Sarinah. BAHKAN sampai ada birdnews (re: kabar burung) yang menyebutkan terjadi baku tembak antara pengebom dengan polisi sampai ke Semanggi. Yang paling tidak masuk akal sehat saya adalah yang men-share dengan sangat santainya polisi yang terluka sampai hampir kehilangan kakinya. Dalam pikiran saya saat itu, “Sedemikian menikmatinya kah orang Indonesia pada hal-hal yang tidak penting seperti ini?”

Saya, anda dan teman-teman sepergunduan kita sungguh bisa membuat dunia ini semakin penuh kebencian atau  lebih damai untuk dihuni. Faktor yang bisa membuat dunia ini lebih damai memang banyak. Tapi sekecil apapun usaha yang bisa kita lakukan akan lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa, rasanya. Kali ini ijinkan saya dengan kemampuan sok tahu diatas rata-rata berbagi 3 tips sederhana dengan penuh daya kesombongan.

Count until 100. 

Kalau menghitung sampai 10 rasanya banyak yang belum kembali ke kesadarannya masing-masing untuk bisa menelaah apakah informasi yang kita dapatkan bisa membahayakan orang lain. Jadi saya pilih, hitung sampai 100. PIKIR, PIKIR, PIKIR. Kalau kita sampai tidak bisa menemukan apakah ini benar atau bohong, bukankah lebih bijak untuk tidak mengklik “Copy” dan “Paste“? Ngga usah sok-sok perhatian lah, mendingan yang jomblo fokus nyari pasangan, yang punya pasangan nanyain pasangannya mau dikadoin apa ulang tahun nanti.

Bedakan Fakta dan Opini

Yang biasanya memecah persatuan dan kesatuan di grup salah satunya adalah perang opini. yang satu pendukung pasangan yang mana, ada yang mendukung pasangan yang lainnya.

ma_00077427_yjtgnj

Fakta : Gajah berkaki 4.

Opini : Si Gajah di samping ini gendut!

Please! In my opinion, (tuh udah di-note ya, harapannya ngga didebat) opini seseorang, pilihan seseorang sangat dipengaruhi masa lalu dan masa sekarang: nilai kehidupan, ajaran agama, nilai-nilai yang dianut dalam keluarga, nilai yang dipelajari selama di bangku sekolah, dan lain sebagainya. Ini akan sangat menentukan seseorang meletakkan pilihannya. Misal: Seseorang yang dibesarkan dengan nilai perempuan bisa melakukan apa saja akan cenderung bersimpati pada calon yang ada perempuannya. Atau seorang yang dibesarkan dengan nilai kebohongan adalah dosa terbesar, pasti tidak akan memberikan kesempatan kedua kepada calon pemimpin yang punya record tersangkut masalah korupsi, dan kebohongan-kebohongan lainnya. Apa yang dilalui di masa lalu mau tidak mau akan membentuk karakter dan cara pandangnya. Jadi ya, mau lo paksain kayak gimana pun, mau lo debat sampai sapi minum susu sekalipun ngga bakalan bisa ngubah pendapatnya. Bisa sih, tapi saya bilangin: cinta yang dipaksakan itu rasanya ngga asik.

Be Wise. 

Seru ya, pakai bahasa inggris. Bijak. Ini kadang yang sering kita lupakan. Wajar saja jika ada seorang pendukung yang amatir sampai skala totalitas berhamburan dalam festival politik. Saya juga tidak jarang menunjukkan keberpihakan saya pada salah satu calon. Biasanya saya tunjukkan pada grup persegunduan saja, karena udah saya pastikan isinya pendukung calon yang sama. Nah, mengenai bijak. Balik lagi tuh. Semua orang bisa aja menunjukkan keberpihakan. Wajar. Yang ngga wajar itu kalau pertunjukan keberpihakan ini menggunakan link dari web propaganda yang berbicara bukan fakta melainkan pemelintiran fakta, asumsi, dan propaganda. Saya tidak menyudutkan siapa pun ya. Balik lagi, opini dan pilihan seseorang itu dipengaruhi banyak hal. Tapi di tengah kehangatan suasana politik seperti ini, rasanya WAJIB hukumnya untuk mengecek kembali sumber yang kita gunakan untuk menunjukkan keberpihakan kita. Kalau kita menemukan mantan teman sepergunduan yang keluar dari grup karena beda pilihan calon menyebarkan berita di media sosial isinya dari web yang tidak tahu entah dari mana, udah ngga perlu didebat. Balik lagi, pilihan. Sama kan kayak teman hidup, si A lebih pilih perempuan cantik tapi ngga bisa masak, si B pilih yang bisa masak dan ngurus rumah tapi ngga terlalu cantik. Lo bayangin perasaan B kalau si A bilang: LO NYARI BINI ATAU PEMBANTU! Bayangin coba! Pedih Bro! Balik lagi seluruh nilai hidup dan pengalaman masa lalu pasti membentuk dia.

Kembali ke isu sumber informasi, kalau isinya sudah terlalu penuh pemelintiran fakta, asumsi dan segala macamnya, gunakan otak dan hatimu. Kalau otak logikamu menolak tapi hatimu sangat setuju, jangan di-share. Kemungkinan besar kamu memang cinta buta padanya. Jangan harapkan orang mengerti tentang kecintaanmu pun kebutaanmu. Lebih baik simpanlah dan nikmatilah cinta dan butamu untuk dirimu sendiri. Karena sebenarnya hal yang terintim dan terindah dalam hubungan kadang tidak harus di-share di media sosial.

Cara paling gampang memastikan bertanya kembali pada Google. Beberapa media online yang agak bisa dipertanggungjawabkan, sebutlah kompas.com mereka sudah memiliki artikel tanggapan mengenai isu hoax yang sering beredar di aplikasi perpesanan. Jadi ketik-ketik ajalah. Ngga susah.

Yak demikian lah tulisan asal mangap sore hari ini. Walaupun dalam nuansa festival Pilkada, tulisan ini semoga bisa membawa dampak di semua topik-topik lainnya. Khususnya berita-berita hoax.

Dengan ini saya sampaikan bahwa yang saya tulis ini sepenuhnya adalah opini yang pastinya sangat dipengaruhi banyak faktor seperti nilai agama katolik, perasaan sebagai minoritas cina (walaupun sedikit yang percaya kalau saya ada keturunan cina), dan perasaan gundah penuh kerinduan karena cinta terpaut ribuan mil namun sering ditanyai apakah aku masih dengannya karena tertangkap mengobrol akrab dengan lawan jenis.

Sekian. Selamat sore semua!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s