Setangkup Cerita Menjelang Natal

Natal..

Bagi umat Kristiani seperti saya, natal adalah salah satu momen menyenangkan.

Sebagian orang melihat ini sebagai sebuah momen dimana BIG SALE ada dimana-mana. Sebagian lagi menikmatinya sebagai momen menghabiskan waktu bersama keluarga. Sebagian kecil, menjadikan ini sebagai momentum besar batu loncatan untuk tahun depan yang lebih baik lagi dari tahun ini.

Terlepas dari sejarah Natal yang kalau teman-teman ingin tahu banget bisa lihat disini natal itu apa sih? Tapi saya sendiri ngga bakal bahas sejarah dan seluruh kontroversi tentang Natal disini.

Sejak tahun 2008, saya tidak tertarik lagi dengan segala persiapan menjelang Natal, bahkan Natal itu sendiri. Sungguh. Tahun 2008 bisa dikatakan tahun terberat di keluarga kami. Sejak kakak saya satu-satunya sakit, kondisi di keluarga sudah tidak stabil. Terlebih ketika dia menghembuskan nafas terakhir tepat di hari ulang tahun adik saya satu-satunya, 10 Desember 2008. Saya yakin, ia bertahan sekuat tenaga untuk menunggu tanggal 10 Desember, untuk sekedar mengucapkan selamat ulang tahun pada adik saya untuk terakhir kalinya.

Kalau menengok kembali ke belakang, pada masa remajanya dia pribadi yang pembangkang, sepertinya saya dan adikpun seperti itu. Tapi kami memiliki anger management yang berbeda tampaknya. Makanya terkadang kami sering tidak cocok juga. Dapat dikatakan, kami tumbuh dan berkembang untuk memenuhi ekspektasi orang lain. Hal ini membuat kami memiliki tekanan dalam hidup kami masing-masing dan kami tidak memiliki waktu untuk sekedar berbicara dari hati ke hati. Namun beberapa tahun belakangan, saya melihat mas lebih banyak meluangkan waktu untuk berdoa. Serius, dia sangat tekun berdoa. Dalam berbagai kesempatan dia memulai dan mengakhiri kegiatannya dengan berdoa. Saya ingat betul, misa terakhir yang mas hadiri adalah Misa Arwah Seluruh Umat Beriman, 2 November 2008. Saat itu saya yang mendampinginya ke gereja dengan kondisi tubuhnya yang belum terlalu fit. Dalam setiap kesempatan berdoa, saya sempat melihat ada tetes airmata yang mengalir namun saya pura-pura tidak melihat dan membiarkannya mengambil waktu untuk berdoa.

Selepas 10 Desember 2008, keluarga kami menjadi timpang. Semua larut dalam kesedihan masing-masing, komunikasi tidak berjalan dengan baik dan rumah tidak pernah lagi menjadi sama. Katanya beberapa orang, akan lebih mudah melepas kepergian seorang yang sudah lanjut usia, dibandingkan seorang yang masih muda. Terus terang, ini adalah salah satu hal terberat bagi keluarga kami. Salah satu yang terberat adalah perayaan ulang tahun adik saya satu-satunya. Setiap tanggal ini, ibu saya mengadakan doa bersama untuk mendoakan mas dan meniadakan perayaan ulang tahunnya. Berat, namun tahun berganti tahun Puji Tuhan akhirnya kami berhasil menyesuaikan kondisi dan keadaan.

Natal 2008, kebetulan kami sekeluarga menjadi Panitia Natal di Gereja. Setiap proses saya jalani dengan rasa sesak. Natal tak pernah akan sama lagi. Tidak akan. Pernah satu kali dalam malam persiapan saya bingung sekali karena mendadak adik saya hilang di Gereja. Padahal lagi butuh dia untuk mengerjakan sesuatu. Tiba-tiba ketemunya di Goa Maria. Sedang tersedu-sedu. Dengan bergetar dia bilang, “gw inget mas. Gw kangen mas!” dan dengan sok tenangnya saya bilang, “jangan sedih, mas tuh dah sama Tuhan Yesus kali. Dia udah ngga ngerasain sakit lagi!”. Mungkin karena saya perempuan, lebih bisa menyembunyikan perasaan yang sebenarnya. Namun saya sendiri merasakan hal yang sama, pertanyaan-pertanyaan yang belum dapat terjawab.

Natal 2008 adalah salah satu momentum hidup dengan ombak terbesar. Dan ombak kehidupan itu masih berlanjut hingga sekarang. Proses ini masih akan berlangsung sepertinya. Saya tetap belum kembali tertarik dengan Natal sepenuhnya. Setiap kali melamun atau sedang menyempatkan diri nostalgia ke masa lalu, rasa penyesalan kembali hadir.

Rasa penyesalan yang hadir adalah kenapa ia sakit ketika pengetahuan saya belum mendalam di bidang kedokteran, kenapa saya tumbuh dan besar tanpa rasa memiliki dan persaudaraan yang erat dengannya, kenapa Tuhan begitu teganya mengambil kakak saya satu-satunya. Begitu banyak pertanyaan yang tidak bisa dijawab hingga kini. Dalam setiap doa, masih ada rasa rindu untuk kembali melihatnya, bersendagurau dengannya dan menghabiskan waktu bersama.

Setiap kali perayaan Natal dan saat lagu Malam Kudus dikumandangkan, saat itu saya selalu membayangkan mas berada diantara kami. Sambil berpikir, “mas lagi ngapain ya sekarang?” lalu tidak terasa ada air mata yang kembali mengalir.

Sampai pada perayaan Natal kantor (PT. Bintang Toedjoe) di tahun ini. Perayaan natal di kantor kami biasanya diadakan 1-2 minggu sebelum hari Natal. Kalau tradisi di Katolik, kami akan merayakannya setelah Natal. Pada perayaan itu, diyanyikan lagu O, Holy Night. Suasananya menjadi syahdu dan khidmat. Tiba-tiba teringat lagi sama mas. Ada perasaan berbeda ketika itu terjadi. Sekujur tubuh saya merasa merinding, dingin dan tidak dapat bergerak. Tiba-tiba saat saya menutup mata, seperti ada seseorang muncul di hadapan saya, tetap menutupi bayangan mas ketika saya berdoa untuknya. Dan semakin merinding ketika Ia berkata, “I will take care of him!” lalu saya menangis. Saya awalnya tidak yakin dengan yang saya lihat. Namun sungguh saya yakin Tuhan tidak ingin saya khawatir lagi. Tuhan ingin saya percaya bahwa mas berada di tempat terbaik. Bahwa yang terjadi 10 Desember 6 tahun yang lalu terjadi atas kehendak Tuhan. Bahwa mulai saat ini saya harus berusaha lebih keras untuk memaafkan diri sendiri dan masa lalu. Bahwa mulai saat ini, sukacita Natal harus ada dan terus bersemi dalam hati.

Kita hanya hidup sekali. Masa lalu memang tidak bisa diubah, segala yang terjadi telah terjadi. Namun dengan kasih tulus kita bisa membuat masa sekarang kita dan orang yang kita cintai menjadi berarti. Make your “NOW” worth it!

YOLO: You Only Life Once. Make sure to make it right, like spending time with your beoved ones 😉

Selamat Natal. Salam DAMAI!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s