That’s Why I’m MOVING ON!

emotional_eatingSaat menulis ini, saya sedang dalam perjalanan merubah pola hidup yang lebih sehat. Berat rasanya merubah mulai dari kebiasaan jajan tanpa batas, memakan makanan yang ingin dimakan, benar-benar ingin dimakan menjadi makan yang sesuai kebutuhan tubuh. Itu tuh kayak ngambil bagian rendang yang besar, tapi ternyata.. LENGKUAS!

Ya, saya sudah cukup lama terjebak dalam perangkap Emotional Eating. Sudah cukup lama sampai saya tidak tahu kapan terakhir kali saya merasakan rasa lapar yang sebenarnya.

Jika mengingat-ingat kembali rasanya saya sudah suka makan sejak kecil. Mungkin ini adalah hasil dari asupan minyak ikan Tung-Hai yang diletakkan mama saya di kulkas dan selalu saya kira sirup pelepas dahaga dengan memasukkannya pada segelas air dingin setelah pulang sekolah, usai bermain dan pada malam hari. (Silakan menghitung minimal berapa kali saya minum minyak ikan itu ya!)

Tolong di note ya Bapak Ibu sekalian, jangan letakkan suplemen sembarang tempat, rasanya itu juga harus ada di tabel peringatan produk.

Kembali pada topik. Saat ini saya sedang dalam program penurunan berat badan, entah yang ke berapa kali, mungkin yang ketiga atau ke empat dalam sepanjang hidup. Setiap sudah cukup ideal, perangkap Emotional Eating ternyata begitu menggiurkan dan akhirnya selalu kembali terjerembab di dalamnya. Saya lalu sadar ada yang salah dalam dalam objective yang ingin diraih.

Sekarang dengan menerapkan pola hidup yang lebih sehat, yakni perbanyak buah dan sayur diimbangi dengan olahraga minimal 150 menit dalam seminggu. Saya berusaha keras untuk mengurangi risiko, ketika semua orang berpikir saya mengurangi berat badan. Karena dengan objective ini saya merasa perubahan gaya hidup yang saya lakukan harus lebih bertahan lama, mungkin seumur hidup untuk kualitas hidup yang lebih baik lagi!

Berbicara tentang risiko, melihat kembali keluarga besar saya rasanya saya patut untuk khawatir. Mulai dari hipertensi, diabetes dan segala komplikasinya pernah dialami anggota keluarga besar lainnya. Jangan salah persepsi ya, saya tidak katakan bahwa keluarga saya penyakitan. Saya yakin penyakit ini tidak sepenuhnya “diturunkan” namun juga sangat dipengaruhi lifestyle.

Kembali ke pola hidup sehat. Ide untuk perbanyak buah dan sayur itu sudah banyak diketahui orang rasanya. Sedikit mengingatkan, kita membutuhkan asupan buah dan sayur minimal 400 gram atau 5 porsi 10 warna untuk mendapatkan manfaat vitamin, mineral dan serat yang baik untuk tubuh.

Ya, saya mencoba untuk mempraktekkan food combining sebagai bagian pola hidup sehat. Kurang lebih sudah berjalan selama 7 bulan sejak pertama kali mencoba mempraktekkan, walaupun masih agak-agak suka nyeleneh.

Selama saya mempraktekkan pola hidup Food Combining, dimana asupan buah dan sayur memang menjadi benang merahnya, ada satu paradigma kehidupan yang lucu menurut saya.

Here we go! Rasanya saya tidak perlu mengingatkan begitu banyak orang yang suka memfoto makanan mereka sebelum dimakan seperti ini:

204185_mengambil-foto-makanan_663_382Biasanya yang difoto itu kalau makan di resto mahal, makanan yang lagi nge hits, atau makanan yang super duper mahal.

Tapi jika kita perhatikan, makanan yang biasanya difoto adalah makanan tinggi karbohidrat, tinggi protein, tinggi gula simpel.

Yup, bukan hal baru lagi masyarakat kita ini emang brand-minded! Walaupun kopi sidikalang tanpa gula di warung kopi pinggir jalan lebih enak daripada St*rbucks, kayaknya ngga afdol kalau minumnya bukan St*rbucks, kan?! Padahal itu sama-sama kopi, malah lebih sehat kopi Sidikalang tanpa gula, rasanya.

Singkirkanlah brand, karena kita akan berbicara nilai makanan yang kita makan sehari-hari. Tahukah Anda berapa harga 1 kg beras putih? Tahukah Anda berapa harga 1 porsi nasi putih kalau kita makan di resto agak berkelas atau malah berkelas? Berapa kenaikan nilai dari beras putih sampai naik kelas ke nasi putih di berbagai resto?

Harga asal beras jauh lebih rendah ketimbang harga nasi di resto terkenal. Ada kenaikan nilai yang cukup signifikan. Pernah ngecek ngga harga 1 kg melon? 1 kg markisa? 1 kg Pisang? 1 kg Apel Fuji? 1 kg Pear hijau? 1 kg Kiwi? 1 kg Plum? Pernah ngecek harganya di pasar atau toko buah?

Pernah ngebandingin ngga harga 1 kg buah dengan harga 1 kg beras? walaupun perbandingan ini agak ngga apple-to-apple yaa.. cuma ada hal yang menarik disini!

Saya baru merasakan, sebenarnya yang bisa disebut gaya hidup bergengsi adalah orang yang sanggup makan buah dan sayur cukup banyak sehari-hari. Bukan orang yang sanggup makan nasi, mie, pasta, pizza atau apapun itu yang stratch-based di tempat yang paling mahal sekalipun.

Sayapun saat ini belum sanggup jika harus mengkonsumsi 10 warna sayur dan buah dalam 1 hari, karena yang biasanya agak murah adalah yang berwarna merah kekuningan, seperti pepaya, apel, jeruk. Kalau kayak anggur, kiwi dan plum, hmm, hmm, belum sanggup!

Seberapapun tingginya harga yang kita bayar, kita membayar untuk brand-nya. Bukan untuk makanannya. Sedangkan harga buah aja ya, dari toko buah atau pasarnya aja udah mahal.

Saya pun dulu penikmat gula simpel, penggila karbohidrat dalam berbagai jenis dan bentuk, penggemar jajanan sebelum akhirnya tahu bahwa mereka adalah biang keladi dari banyak penyakit degeneratif.

Karena sebenarnya hakikat makan adalah bukan untuk memanjakan lidah, namun memanjakan perut dan memberikan tubuh kita hadiah terbaik karena telah membantu kita menjadi pekerja yang produktif, anak yang berbakti dan pasangan yang lebih mengerti.

Quotation-Julie-Bishop-diet-exercise-health-best-fitness-today-Meetville-Quotes-95853That’s why I’m moving ON! Karena saya sadar, makanan kurang sehat itu ibaratnya pacar ganteng yang otaknya oon. Anda bisa dengan bangga memamerkan kepada khalayak ramai, tapi hati dan pikiran tersiksa setengah mati setiap hari!

 

 

Advertisements

One thought on “That’s Why I’m MOVING ON!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s