Ratna dan Realitas Objektivitas

Sore hari kemarin beredar berita tentang Tante Ratna kesayangan semua orang kena keroyok beberapa pemuda di Bandung. Kronologi yang diceritakan begitu lengkap.. kejanggalannya. Tapi ya itu, langsung tersebar dengan mulusnya di berbagai grup WA, termasuk grup-grup WA yang ada di lingkaran saya.

Terkejut.. bukan hanya dengan tindakan pengeroyokannya namun dengan respon beberapa orang yang pastinya bersebrangan dengan beliau.

“Harga yang pantas”

“Itulah karma karena sudah jahatin presiden”

Terkejut. Sungguh. Bagaimana mungkin kita memberikan respon seperti itu kepada orang yang (pada waktu itu sesuai berita yang beredar) menjadi korban pengeroyokan?

Terlepas dari pribadinya yang kontradiktif, yang cenderung tidak dapat saya pahami dasar pemikiran dan pertimbangan dari berbagai statement-statement beliau, menurut saya pengeroyokan siapapun korbannya bukan sesuatu yang bisa ditoleransi.

Itu tetap salah. Negara ini negara hukum dimana segala sesuatu perlu ditelaah bukti dan saksi menurut kitab hukum untuk diputuskan. Pengeroyokan adalah tindakan main hukum sendiri dan tidak dapat dibiarkan.

Apakah karena dia seorang tante Ratna maka pengeroyokan bisa dibenarkan?

Apakah empati hanya boleh diberikan kepada Jakmania korban pengeroyokan yang bahkan kita ngga tahu mungkin saja almarhum sempat menyulut emosi bobotoh juga?

Silakan kita renungkan bersama ya. Tempatkan diri kita atau orang terkasih kita pada posisi orang lain dapat memudahkan kita lebih objektif lagi menilai suatu kejadian. Jangan biarkan hatimu tumpul karena dunia yang semakin kejam ini, ya.

Pada akhirnya siang hari ini beredar kabar bahwa tante Ratna dan beberapa teman-teman komplotannya membohongi publik dengan fakta-fakta yang sudah terkonfirmasi membuat saya geleng-geleng kepala dan berkata dalam hati, semoga Tuhan sungguh mengampuni dosamu, Tante, Om dan Om panutannya.

Dan saya semenit kemudian duduk manis melihat-lihat menu G*-Food untuk dipesan di tengah hingar bingar kemayoran.

Complete objectivity is not an option. We are all subjective about the way we respond to ‘what is,’ whether it’s the people we encounter, the circumstances in our lives, or ourselves. What we can do is reduce our subjectivity – what I call ‘I see, therefore it is.’ -Elizabeth Thornton-

Semoga harimu menyenangkan hari ini. 😁

Advertisements

Live My Life to The Fullest!

Alkisah di sebuah kehidupan jaman now yang hingar bingar, hiduplah seonggok daging dengan berat diatas rata-rata menjalani hidup perkotaan namun di pinggir kota.

Kehidupan yang sungguh penuh ramai menyisakan kesenduan kecil dalam hati.

Rasanya hampir semua perempuan atau bahkan onggokan daging lain merasakan hal yang sama sesuatu kali dalam hidup.

Kehidupan begitu mengherankan seperti ketika mendapati di explore instagram neng Rais yang notabene penyanyi beken ngisi kolom komentar #AntiPanglingPanglingiClub di salah satu post tentang Ses Megh yang nikah di UK sana.

Lucunyaa.. Nyetijen yang serba benar langsung memborbardir tanpa ampun komen neng Rais yang cuma berisi tagar itu. Menakjubkan ya? Betapa hidup di jaman sekarang harus lebih sabar. Kenapa? Karena dulu yang punya bakat penghakiman hanya bisa menghakimi anak buahnya, rekan kerjanya, saudara kandungnya, sepupunya, keponakannya, tantenya, omnya, sekarang mereka dengan sangat bebas berselancar di media sosial.

Padahal cuma tagar begitu. Soalnya emang Neng Rais salah satu korban para Nyetijen yang waktu dia nikah banyak juga yang komen : kok make up nya biasa banget? Kok.. kok.. kok? Ga tau lagii.. haha *aku ga bakat jadi nyetijen rasanya. Monmaap*

Hidup begitu sulit, sis!

Sekarang godaan untuk tampil begitu sempurna di media sosial untuk menghindari komen tajam begitu besar dan hampir sulit dibantah.

Sekarang, semua harus nampak baik dan benar menurut kacamata banyak orang yang nota bene memiliki nilai hidup yang berbeda, cara berpakaian berbeda, cara bekerja yang berbeda, bahkan cara ngupilpun berbeda. Akui saja, semua orang bahkan memiliki cara ngupil dan waktu ngupilnya masing-masing.

Hidup menurut cara pandang orang jaman sekarang rentan membuat kita setres, Sis.

Kamu juga merasakannya ngga?

Aku merasakan. Ya kita balik sedikit pada topik yang itu lagi itu lagi dari blog ini ya.

Pada saat pacaran lebih dari 5 tahun, ketika kami berdua masih santai.. mikirin mau jalan-jalan kemana abis ini, mikirin mau beli apa abis ini.. mikirin tempat makan mana lagi yang mau dikunjungi, tiap kali ke kondangan selalu ditanya, “kapan nyusul?” Ya kan. Kalau dibilang lelah ya lelah. Bukan lelah kapan nyusulnya, tapi lelah campur gemas, “urusanmu apa?” kayak pengen bilang gitu loh. Kasar kan ya? Huft.

Tapi karena aku agak darah biru, mengelolanya harus berkelas ya kan. Jadi kalau misalnya agak muda orangnya biasanya aku bilang, “Monggo, Mba nya duluan aja. Ngga usah nunggu saya, saya ngga mau nyusul sapa-sapa kok.”

Kalau orangtua atau yang lebih tua gimana jawabannya, Gi? Gini juga? Pengennya sih begitu. Tapi takutnya emak aku yang ngomel, aku dibilang ngga sopan. Doi galak soalnya. Pastinya dengan kepalsuan diatas rata-rata aku akan jawab, “Doain aja, Bu, Pak.”

Palsu? Iya sebenarnya aku ngga mau membiarkan orang mendikte apa yang harus aku lakukan dalam hidupku, tapi karena tuntutan darah biru ya harus berkelas dan elegan. Tanpa kita sadari ini membawa kekhawatiran dalam hati mengenai pilihan hidup setiap orang yang tidak harus sama arahnya, usianya, pun tolak ukurnya.

Di Indonesia sangat sulit memiliki pilihan hidup yang berbeda. Lebih sulit lagi kalau kita mudah khawatir dengan apa yang orang lain katakan tentang kita.

Jadi melalui tulisan ini aku mau mengajak siapa saja, terutama perempuan, iya aku tahu kalian berhati lembut sampai tidak tega menyakiti siapapun apalagi orang tersayang.. It’s okay to have different choices baik itu dengan pasanganmu, calon pasanganmu, temanmu, sesama perempuan, sesama seonggok daging pun dengan orang tua.

Tentang orangtua… ini bukan tentang kualat, tapi menurut saya lebih ke arah berbeda bahasa cinta. Terlebih yang lebih tua, mungkin mereka khawatir kalau nanti kita ngga ada yang menjaga, which is sejak jaman emansipasi kita memiliki kemampuan untuk menjaga diri dengan baik menurut segi finansial maupun emosional (seharusnya begitu, ya!)

Menuntut masyarakat ini berubah cara komunikasi pembuka dari, “kapan nyusul?”, “kapan punya anak?”, “kapan nambah anak lagi?” sepertinya agak mustahil soalnya udah jadi budaya. Iya sedih ya yang jadi budaya komunikasi dimulai dari “mengurusi urusan personal orang lain” jadi ngga heran bagaimana menjadi perempuan di negara ini syusah bukan main.

Kita ngga bisa mengubah yang datang, jadi yang bisa kita ubah adalah reaksi kita terhadap budaya yang berbeda ini.

Berdamailah dengan hatimu, ketahui langkah arahmu, jangan biarkan suara gemuruh membuatmu putar balik, sedikit menengok kiri kanan boleh lah, terkadang ini bisa menjadi penguat pilihan hidup.

Dan selamat mencoba! Akupun masih dalam proses, btw!

 

 

 

Ketika Dunia Begitu Judgemental. Sabar ya! Ini Ujian :)

 

Kapan nikah?

Kok belum punya anak?

Kok pasangan kamu begitu sih sama kamu?

Kok dia cerai sih?

Aku agak nebeng isu Ahok cerai,  ahh!

Sebenarnya menjadi menarik adalah ketika sekumpulan orang berspekulasi penyebab, beberapa nangis di pojokan terisak seperti sedang mendengar pernikahan orangtuanya sendiri yang akan berakhir, beberapa sedang mengintip web lain yang mengatakan ini adalah rancangan, beberapa lainnya sedang bingung mencari tahu siapa itu Ahok (mungkin loh mereka ngga tau!)

Lalu saya sendiri masuk di kumpulan orang macam mana? Saya termasuk orang lugu yang merasa para wartawan kompas memiliki kredibiltas yang cukup lumayan lah sehingga tidak menyebarkan berita hoax.

Saya masuk dalam kumpulan orang yang berspekulasi penyebabnya karena pengen tahu aja. Ya iya lah, Ahok public figure idola. Pada akhirnya muncul surat yang diduga surat gugatan dan saya dengan keluguan diatas rata-rata percaya dengan surat gugatan itu benar adanya walaupun masih menjadi misteri adanya ketidak cocokan jumlah lembar gugatan yang disiapkan pengacara berjumlah 7 lembar, sedangkan yang tersebar di internet total hanya 6 lembar kalau halaman pertama biasanya memuat nama penggugat dan tergugat. Kemungkinan 1 lembar lagi : LAMPIRAN. As usual semua ada lampiran kan?  (ini enaknya bergaul dengan gerombolan yang merasa mereka detektif, bahkan sampai lembaran aja kita bisa merasa ini ada sesuatu yang mengganjal. Keren kan? HA!).

Saya masuk dalam kumpulan orang yang akhirnya berkesimpulan : oh ya mungkin saja Ahok dan Vero bercerai tapi saya tidak bilang bahwa isu Vero selingkuh itu benar adanya ya. Menjadi istri seorang Ahok bukan perkara mudah terlebih dengan integritasnya sebagai pemimpin daerah jaman old. Berangkat jam 4 pagi, pulang jam 11 malam, sabtu atau minggu masih sidak sana sini. Pas banjir sibuk kesana kemari buat memastikan kondisi warga Jakarta aman tentram, padahal semua orang waktunya sama-sama 24 jam. Mungkin warga Jakarta senang karena bisa “mengahbiskan waktu” sama Ahok lebih dari 12 jam sehari, hanya saja ada 4 orang dari warga jakarta minimal kehilangan 12 jam bersama Ayahnya. Ini konsekuensi. Iya. Saya memang masuk dalam kelompok yang agak realistis. Tolonglah. Semua punya konsekuensi. Kalau sampai keluarga Ahok terlihat begitu harmonis, bukan Ahoknya yang hebat. Anak-anak dan istrinya itu lho yang mengorbankan perasaannya. (Abis ini aku dihujat sama pemuja Bapak Ahok rasanya). Bahkan Ahok sendiri pun menyadari hal ini dia sampaikan pada surat cintanya kepada sang istri pujaan, “Sorry for take everything u did for granted

Tapi alasan kenapa Ahok akhirnya mengajukan gugatan cerai, ya udah biar urusan ko Ahok dan ci Vero. Cem mana anak ingusan yang baru masuk 3 bulan ngomentari yang udah 20 tahun lebih? sepak terjangnya jauh lah.

Udah yaa bahas Ahoknya. Ini hanya introduksi supaya pembaca tetap stay. Moga-moga abis ini juga stay. Apapun yang terjadi sama Ahok saya pengen tahu hanya karena public figure, tapi kalau sampai ada yang bilang, “ternyata Ahok ga sebagus yang gw kira” cuma karena perkara ini, iya kamu masuk dalam soal ujian hidup ko Ahok. Nah ini pokok bahasan tulisan kali ini.

Kita sering banget menyiksa jiwa orang-orang yang kita kasihi tanpa kita sadari. Kadang kita menjadi ujian hidup dari orang yang kita kasihi dengan pertanyaan simple macam diatas. Mulai dari “mendesak” kapan nikah, kapan mau punya anak, kapan mau nambah anak. Seakan hidup ini sangat sempurna ketika seseorang sudah menikah, sudah punya anak, nambah lagi, nambah lagi, dan lagi, tanpa kita berusaha memiliki empati pada orang lain.

Terkadang kita ga mau tahu kenapa seseorang belum mau menikah, tidak mau menikah, dan memilih untuk tidak memiliki pasangan. Bahkan dalam otak kita, kita sering merasa bahwa orang-orang yang tidak mau punya pasangan adalah orang yang aneh. Tidak umumnya. Terus ujung-ujungnya nanya, “ehh jangan gitu, ntar nyesel lhoo pas tua baru sadar.”

Kalau misalnya dia punya trauma masa lalu, trus kamu bilang, “kan ngga semua orang begitu!”

Kalau dia bilang dia biasa sendiri dan enjoy, lalu kamu bilang “ehh bener loh ntar nyesel dehhhh..!”

Kalau dia bilang dia belum ketemu yang pas, “lo terlalu pemilih, coba ngga pemilih!”

Beberapa orang yang tadinya udah fix mau hidup mandiri sendiri, akhirnya dibuat kepikiran karena lingkaran terdekatnya mengatakan dia akan menyesal di kemudian hari.  Kemudian ia buru-buru mencari pasangan, lalu menikah, lalu punya anak.

Trus dia jadi korban KDRT pasangannya, trus kamu bilang, “kok bisa sih lo ketemu lakik kayak gitu?”

Lalu akhirnya pasangannya ternyata peselingkuh ulung yang ahirnya ke-gep,  lalu kamu bilang, “lah kok bisa?”

Lalu ternyata pasangannya memiliki perilaku seks menyimpang, “ya ampunnn!”

Lalu akhirnya bercerai karena alasan ketidakcocokan. Lalu temennya nanya, “kok ceraii?”

Lalu berikutnya satu kantor/satu pertemenan atau keluarga besar tahu hal yang tadinya hanya diceritakan kepada kamu. Wohooooo!!!

Ya Tuhan.

Tolonglah.

Berhenti.

Berhenti untuk bersikap tidak memiliki empati.

Berhenti untuk mengambil bagian dalam urusan pribadi orang.

Berhenti untuk menghakimi kehidupan orang lain baik atau tidak baik dengan parameter pribadi kita sendiri.

Berhenti untuk judgemental.

Berhenti untuk menjadi ujian hidup untuk orang yang kamu sayangi (kalau benar kamu sayangi ya!)

Kebiasaan kita (iyalah saya termasuk!) memang memudahan kita untuk menjadi pribadi yang “peduli” sampai urusan orang lain, sampai masalah nikah ngga nikah, udah punya anak atau belum,  penghasilan suami orang lain atau istrinya yang lebih besar bahkan kita urusi.

Jika itu menjadi tanda pedulimu, berhentilah.

Beberapa jiwa suka tanpa sadar memasukkan komentar negatifmu dalam hati mereka, mempengaruhi kebahagiaan mereka dan pada akhirnya mereka kecewa dengan hidup mereka karena komentar negatifmu. Iya sebegitu dahsyatnya. Sungguh. Terlebih para kaum perempuan. Mereka mudah tersiksa dengan berbagai anggapan masyarakat, apalagi anggapan kamu, girlsquad-nya. Iya, banyak dari kami kelihatan tangguh di luar namun rapuh di dalam.

Jika kamu sungguh menyayangi mereka berhentilah bertanya. Seseorang yang sungguh menganggap kamu penting akan menceritakan hal yang menjadi kekhawatiran mereka. Sapalah mereka dengan mendengarkan dan bukan menghakimi dan pahamilah mereka dan bukan mengomentari. Biar bagaimana mereka adalah pribadi unik yang punya masa lalu yang tidak bisa dilepaskan dari hidupnya saat ini. Jadilah orang yang “membocorkan kunci jawaban ujian” dan bukan menjadi “soal ujian” 😉

Karena ujian kehidupan itu sulitnya dobel-dobel dibanding ujian sekolah. Soal yang sama datang berkali-kali kadang kita juga tetap ga bisa jawab.

Kan akan lebih mudah kalau ada yang bisa bantu “kasih kunci jawaban” yaa.

Untuk para perempuan, kudoakan kalian mendapatkan kebahagiaan yang hakiki sesederhana memiliki teman perempuan yang menjadi “pembocor kunci jawaban ujian hidup”. 😉

Karena Hidup (seharusnya bukan) Tentang “Per-susul-an” yang Imajiner

Ini judul layaknya judul artikel tidak berbobot tapi inilah kehidupan realita yang dihadapi kebanyakan kita.

“Dia aja umur 27 tahun udah jadi manager”

“Seneng yaa punya suami ada yang ngurusin”

“Duhh semoga aku lekas menyusul menikah tahun depan”

Iyaa ini yang akan sering terjadi.

Menjelang hari bahagiaku (cieee..ciee…), aku berusaha sebisaku untuk tidak mendoakan setiap pribadi yang single untuk “menyusul”ku segera.

Tapi kalau khilaf maafkan ya.

Kita sudah lama hidup di masyarakat yang melihat dan membandingkan dirinya dengan orang di sekitarnya, role modelnya, atau hmm bayangan imajinasinya berdasarkan perolehan orang lain.

Metode pikir yang seperti ini akan mendorong kita terbiasa untuk berbahagia ketika orang lain sulit dan sedih ketika orang lain senang.

Bagaimana tidak, kita melihat hidup kita seperti perlombaan lari dari orang-orang tertentu yang ada dalam imajinasi kita. Sehingga, ketika orang tersebut mendapatkan sebuah perolehan dalam hidupnya, pertamanya kita senang sih.. tapi lama-lama akan muncul, “ahh gitu doang aja udah bangga.. gw udah lebih dari dia di aspek lainnya aja biasa aja” atau bisa juga nih, “yahh gapapa lah dia mencapai itu, tapi gw kan lebih unggul karena gw punya A, B, … dan seterusnya”

Kita akan mulai terbiasa menghitung kemenangan dan kekalahan kita dengan orang lain yang dijadikan “lawan tanding” dalam kehidupan. Hidup kita terpacu maju karena kita merasa ketinggalan dari orang lain. Bekerja di kantor lebih baik untuk menjadi Manager bukan karena keinginan dorongan untuk berkontribusi dan mengembangkan diri namun karena sang lawan tanding sudah mencapai posisi itu terlebih dahulu.

Bangun tidur berdoa meminta untuk diberikan kemenangan dan perolehan bukan untuk mempersembahkan diri dan hidup lebih dalam kepada Tuhan namun untuk menyusul sang lawan tanding, untung-untung jika bisa mengungguli.

Bersenda gurau dan bertukar pikir dengan teman-teman sepergunduan bukan untuk melepaskan stres namun ternyata sedang mengukur kadar kemenangan dan kekalahan dengan teman sepergunduannya. Nah kan! Dalam hatinya diam-diam sedang berlomba dengan teman sepergunduannya itu sangat seru.

Motivasi dan dorongan untuk menjadi pribadi yang lebih baik….. dari orang lain.

Mengukur kemenangan dan kekalahan dari pencapaiannya….. dari orang lain.

Dimana.. setelah dipikir-pikir semua perlombaan ini IMAJINER alias hanya dalam imajinasi.

Saya tidak mau berbicara tentang jangan suka iri sama orang lain. Bawaan manusia yang ngga gampang puas itu emang ada. Fix. Saya juga merasakan hal yang sama kok.

Tapi, as fas as I know, Tuhan membentuk kita menjadi pribadi yang unik.

Dengan menempatkan hidup kita dalam sebuah track perlombaan kehidupan dengan teman imajinasi kita, kita telah merendahkan bahkan sampai pada level melakukan secara sadar meniadakan peranan Tuhan dalam hidup kita.

Kok yaa kamu tega-teganya membandingkan dirimu dengan ciptaan manusia lain? Wong Tuhan aja menciptakan tinggi hidungmu sama tinggi hidungnya aja beda.  Tuhan aja dengan sengaja membuat hidungmu agak mirip mamamu, matamu agak mirip papamu dan kadang dibuatnya ga mirip siapa-siapa (emang kadang bercandanya suka kelewatan si Tuhan ini, kasihan kan dia jadi bahan ejekan anak pungut)

“Membandingkan itu kan gapapa, selama kita ngga menyakiti orang lain dan menjadikannya motivasi”

Loh kamu itu sedang menyakiti hati Tuhanmu. Penciptamu. Piye toh.

“Kalau kayak gitu ngga bakalan bisa maju dong”

Iya itu memang imajinasi yang kita bangun. Itu tuh! KE.BI.A.SA.AN. Kebiasaan menaruh dan membiarkan imajinasi track lomba kehidupan meraja rela. Loh, kamu itu ciptaan Tuhan yang paling sempurna lohh.. *versi Andra and The Backbone atau versi Gita Gutawa? Haha!

Lah, Tuhan itu titipkan tugas untukmu. Tuhan titipkan talenta. Tuhan titipkan berkat. Masa iyaa dirimu maju karena orang lain maju. Piye toh. Yaa maju itu karena ungkapan syukur kepada Sang Pencipta. Maju itu ngga cuma karir, ngga cuma tentang sekarang single.. tahun depan harus punya pacar entah gimana caranya. Maju itu seluruh aspek kehidupan.

Nah pada akhirnya semua orang mempunyai track masing-masing. Emang yang bener harusnya begini haha!

Menyadari bahwa saya lebih baik….. dari kemarin.

Lebih dewasa…..dari tahun lalu.

Oke, ini sekelumit cerita kurang penting di H minus sekian hari. Moga-moga kita ketemu aku ngga basa basi super BASI yaa, seperti : “kapan nyusul?” dan semoga aku ga bete pas ada yang nanya, “rencana mau punya anak kapan?” – ini basi sih super lho!

Mari bikini hidup lebih hidup. Eh pada nyadar ngga sih itu aku nulis “bikini” bukan “bikin”

Sengaja. Alasannya? Iseng aja. Bye

Itu sekelumit cerita asal sore ini.

Udahlah, keluar dari track perlombaan imajiner kita.

Btw aku ketinggalan sesuatu.. jadi ini masuk revisi post ku diupdate Kamis, 26 Oktober

Dengan post ini aku doakan siapapun yang membaca mendapatkan kebahagiaan yang hakiki. Tidak bahagia karena menjadi lebih “unggul” dalam track perlombaan dengan orang lain.

Bahagialah. Tuhan mengasihimu dan titipkan sesuatu di dunia ini untuk diurus. 😉 May God bless you

With abundance of love,

Miss. Claudia Anggi

 

Saya Tidak Berhak Menerima Cinta Sebesar Ini

17 Januari 2017, hari ke 12 pasca operasi lutut yang saya jalani. Nampaknya masa recovery 12 minggu belum separuh jalan.

Sebelumnya saya akan menjelaskan sedikit lebih rinci apa yang saya alami disini. Ini menjadi sebuah pilihan yang sudah saya tetapkan sesaat setelah operasi namun saya belum sempat menemukan angle cerita dari sekedar curhat yang membosankan. Karena blog ini salah satu rekaman yang ingin saya simpan untuk berbagai momen hidup penting saya.

Hal ini juga saya lakukan untuk orang-orang yang telah menyirami saya dengan banyak cinta selama proses operasi hingga saat ini memasuki hari ke-12 recovery.

Ceroboh. Itu nama tengah saya mungkin.

Dalam perjalanan panjang perubahan pola hidup, menjalani hidup menjadi lebih aktif bergerak fisik menjadi salah satu cara yang saya tempuh ketimbang membatasi makan makanan terlalu banyak. Karena saya cinta makanan. Hidup MAKAN!! 😀

Tanggal 20 Oktober 2016 adalah momentum saya memutuskan untuk melakukan aktivitas olahraga community-based yang ada di daerah Kelapa gading. Mengingat jadwal mereka cukup malam mulainya, jadi saya menyempatkan waktu ke gym dulu untuk ikut RPM. Sembari siap-siap mengobrolah saya dengan pria penggemar berat saya. Pas ngobrol-ngobrol gitu dia dah sempat bilang, “ingat nanti jangan lompat-lompat”. Dengan sangat yakin saya katakan, “Beres. Tau kok kalau itu berbahaya untuk orang bertubuh besar.”

Ceroboh, karena terlalu ketakutan badan tiap siap dengan sesi muscle strenghtening-nya saya akhirnya ikuti gerakan pemanasan mereka-jumping jacks. Ceroboh. Itu sungguh ceroboh karena saya tahu apa yang tidak boleh saya lakukan namun saya lupa dimana saya harus berhenti dan terus lanjut.

Setelah sesi jumping jacks selesai lutut kiri mulai berasa sakit. Nyeri sekali, apalagi kalau berjalan cukup panjang.

Long story short, setelah 3 bulan berlalu berisi penuh dengan diskusi dengan beberapa dokter Spesialis Dokter Olahraga, teman-teman sejawat yang sedang PPDS Ortopedi dan menyambangi 3 orang Dokter Ortopedi plus hasil MRI yang menyatakan adanya ruptur meniscus lateral dengan sugestif ada robekan di ACL serta treatment dengan NSAID selama 2 minggu yang tidak membuahkan hasil akhirnya dokter Ortopedi menyerankan operasi Arthroscopy untuk menindaklanjuti trauma yang terjadi.

Sebelum operasi Dokter yang cukup baik hati dan agak komunikatif ini sudah menjelaskan dengan sangat rinci mengenai adanya kemungkinan implan meniscus ataupun ACL baru dengan kisaran biayanya yang sangat besar dan adanya kemungkinan recovery panjang menggunakan crutches (kruk/tongkat).

Ditengah kegundahan mengenai proses operasi, excess biaya yang kemungkinan cukup besar dan proses recovery panjang, saya serahkan segala kekhawatiran ke dalam tangan Tuhan. Puji Tuhan proses operasi berjalan dengan lancar dan saya dapat menyaksikan lewat layar proses operasi memang berlangsung dengan cukup baik.

Pertanyaan yang sering ditanyakan: kenapa pakai crutches? Iya jadi ternyata dalam waktu 2 bulan kondisi meniscus yang robek mengikis tulang rawan di tulang paha saya. Untuk membantu pembentukan tulang rawan baru, Dokter harus “membobok” tulang paha saya dalam ukuran mikro supaya ada aliran darah yang merangsang pembentukan tulang rawan baru (microfracture surgery). Inilah alasannya. Untuk menjamin pembentukan tulang rawan baru dengan optimal, selama 6 minggu lutut kiri tidak boleh menerima beban sama sekali, dilanjutkan dengan 6 minggu berikutnya menerima beban parsial.

Jadi singkat cerita, saat ini saya bekerja dan beraktivitas dengan menggunakan crutches. Jadi terbatas? IYA. BANGET. Saya jadi lebih sering merepotkan mama, papa, adik, teman sepegunduan, rekan kerja dan orang-orang lain yang bersinggungan dengan pekerjaan saya. Setiap meeting saya selalu request lantai dasar (karena di kantor kami hanya 2 lantai, jadi tidak tersedia lift – hal ini juga yang sebelum ini saya syukuri karena bisa lebih banyak bergerak), setiap kali butuh sesuatu yang mengharuskan saya membawa sesuatu cukup berat saya harus minta tolong orang lain.

Di dalam proses recovery inilah saya menyadari bagaimana cinta dari orang lain begitu besar untuk saya. Terlalu besar.

Karena terkadang kita melihat kebaikan seseorang sebagai suatu timbal balik dari apa yang kita berikan kepada orang lain.

Sebelumnya saya jarang menyadari bahwa keluarga saya begitu mendukung saya dalam berbagai hal sampai saya sungguh merepotkan mama saya ketika saya harus mandi, merepotkan adik saya ketika harus mengerjakan pekerjaan rumah dan lain sebagainya.

Saya jarang menyadari bagaimana rekan-rekan kerja ternyata mendukung saya. Salah satu cinta mereka dengan keterbatasan saya untuk mengambil air di dispenser yang 10 langkah dari meja kerja saya, seorang rekan kerja memintakan kepada OB untuk menyediakan 1 pitcher air putih di meja kerja saya dan para mas-mas OB akhirnya selalu mengisikan pithcer air yang sama setiap pagi hingga hari ini. Bagaimana satpam-satpam sangat membantu saya menaiki tangga-tangga kecil di lobby kantor kami, bagaimana driver kantor juga membantu saya dengan memposisikan mobil menjadi lebih dekat ketika saya naik dan turun .

Saya jarang menyadari bagaimana teman-teman sepergunduan yang sudah saya anggap seperti saudara memiliki cinta yang begitu besar buat saya, mulai dari menemani di rumah sakit, main ke rumah untuk bersenda gurau pun menjadi salah satu orang yang diandalkan ketika Mama saya mengalami kecelakaan motor beberapa hari lalu, mendapatkan luka robek cukup panjang di kaki kiri, harus dilarikan ke rumah sakit sedangkan saya tidak bisa keluar rumah dengan sigap karena kondisi keterbatasan saya saat ini.

Di hari ke-12 sore hari ini, hati saya seperti dihantam ketika saya harus meeting dengan seseorang di daerah perkantoran Sudirman. Masuk ke lobby gedung pencakar langit itu dengan crutches sungguh menyita perhatian banyak orang, mulai dari satpam, hingga orang-orang yang berdiri di sekitar pintu keluar. Sembari menunggu yang ditunggu datang, saya memilih untuk berdiri karena tidak ada kursi disana, sedangkan satu-satunya coffee shop di gedung itu sedang cukup ramai sehubungan dengan adanya promo Buy 1 get 2. Cukup lelah berdiri 10 menit akhirnya saya nekad antri di coffee shop yang dimaksud. Antrian yang cukup panjang nyatanya harus saya jalani perlahan namun pasti. Rasa kesal sempat ada ketika antrian depan saya (dengan waktu tunggu antrian yang cukup panjang) masih belum tahu apa yang mereka mau pesan ketika sudah di depan kasir. Setelah memesan, untungnya ada tempat duduk kosong untuk saya menunggu. Tidak lama, minuman saya sudah jadi dan saya harus bergegas mengambil di meja pick up pesanan. Saya agak kaget ketika saya hendak berjalan mengambil kopi pesanan saya di meja itu, ada orang lain yang sedang berdiri menunggu di sekitar meja itu dan tetap berdiri disitu, sehingga saya terhalang saat mengambil kopi. Setelah duduk, pertemuan saya selesai, saya hendak keluar dari coffee shop ini untuk pulang kembali ke kantor. Dengan antrian yang super ramai dan meja yang cukup banyak di sisi lain membuat jalan saya semakin sempit. Saya kaget lagi ketika saya harus mengatakan permisi beberapa kali untuk membuat beberapa orang meminggirkan kakinya sedikit sehingga tidak terinjak crutches saya. Namun di jarak yang agak jauh dari langkah saya ada seorang pria paruh baya yang sedang duduk, langsung berdiri, meminggirkan kursi di sebelah kanan saya, memberikan ruang lebih banyak untuk saya berjalan, dan akhirnya dia bilang, “Let me help you with the door”. Dia buka pintu coffee shop itu dengan senyum dan membantu saya keluar dari coffee shop tanpa harus tersandung kaki-kaki orang lain.

Saya kesal sekali dengan beberapa orang yang tidak peduli dengan kondisi saya di coffee shop itu. Namun ternyata sore hari ini entah kenapa Tuhan menggerakkan hati saya lebih jauh lagi.

Jika saya tidak pernah berada dalam kondisi yang terbatas seperti ini, SAYA BISA JADI MENJADI SALAH SEORANG YANG BERADA DI DEPAN SAYA, DI SEKITAR MEJA TEMPAT MENGAMBIL PESANAN, ORANG-ORANG DALAM ANTRIAN ITU DENGAN KAKI MENJUNTAI, MEMBIARKAN SAYA MENJADI PENGHALANG ORANG LAIN.

Mencintai orang yang mencintai kita lebih mudah ketimbang orang yang tidak kita kenal.

Mengerti orang yang mengerti kita lebih mudah ketimbang orang yang tidak mengerti kita.

Memahami orang lain dengan keterbatasan yang terlihat jauh lebih mudah daripada memahami orang lain dengan keterbatasan yang tidak terlihat.

So I close this story with teary eyes. Huhu.

Di hari ke-12 ini saya menyadari saya tidak berhak menerima cinta yang sedemikian besarnya dari orang-orang terdekat maupun orang lain yang tidak saya kenal. Apa yang saya terima dari orang lain bukanlah sebuah timbal balik dari apa yang saya lakukan.

Jika saya sungguh berhak menerima cinta sebesar ini, bukankah orang-orang di barisan antrian itu akan dengan sigap menyingkirkan kakinya untuk saya tanpa saya minta? Bukankah mereka yang berdiri di sekitar meja itu akan membantu saya membawakan kopi saya ke meja, minimal memudahkan saya mengambil pesanan kopi saya?

Hanya Tuhan yang Maha Baik-lah yang menggerakan hati sedemikian banyak orang untuk memiliki kasih sedemikian banyak untuk saya.

Dengan sedemikian banyak cinta yang saya terima hingga kini, semoga saya bisa semakin banyak memberikan cinta juga kepada orang-orang yang begitu mengasihi saya maupun orang lain yang tidak saya kenal. Karena ada sebuah petikan alkitab yang mengatakan, jika engkau hanya mengasihi orang yang mengasihimu, pahala apakah yang kamu peroleh? Bukankah para pemungut cukai pun berbuat hal yang sama?

Semoga tulisan saya sore ini bisa membawa Anda dan orang-orang yang begitu Anda kasihi dan mengasihi Anda dalam permenungan yang lebih dahsyat lagi dari yang saya alami.

Tuhan Yang Maha Esa memberkati Anda sekalian.

Let’s Make a Better Place

November 2016. 

Dalam bulan ini dan ke depan rasanya kita akan semakin banyak menyaksikan perpecahan antar genk, pertemanan, arisan ibu-ibu, bahkan perkumpulan siskamling bapak-bapak. Bukan cuma di Jakarta, atau daerah-daerah yang lagi hangat isunya tentang Pilkada, tapi hampir di semua daerah yang ngga ikutan Pilkada sekalipun.

Teknologi. Menurut pandangan cetek saya inilah salah satu faktor yang dapat menyebabkan berbagai perpecahan di banyak tempat yang seharusnya tidak ikut kena dampak suasana politik yang hangat. Saya menyebutnya: Pilkada Rasa Pilpres. Yang pilkada Jakarta, yang rame kayaknya ngga cuma di Jakarta. CMIIW.

Bukan suatu hal yang baru kalau ada kebiasaan copy paste dimana-mana. Saya ngga ngomongin skripsi, tesis pun kerjaan. Tapi ini masalah informasi entah darimana yang sering masuk ke grup “Arisan Emas Semilyar”, “Genk Sosialita yang Suka Ngupi Cantik di Kape”, “Gerombolan Jomblo sang Penakluk Wanita” atau entah berapa grup serupa di aplikasi pesan kita. Begitu kita baca, kita merasa heran, takut, dan khawatir kita merasa berkewajiban memberitahukan pada grup lainnya dengan alasan “membantu orang untuk lebih waspada”. Dari Grup arisan, ke grup teman-teman kuliah sampai grup “Rekan Sepergunduan” juga di-forward.

Sejauh pengalaman saya yang pendek ini, alih-alih membantu orang untuk lebih waspada, “perhatian” yang demikian malah membuat orang cemas dan ketakutan. Maka ngga heran beberapa teman langsung bikin status : “Unfriend untuk siapa aja yang kampanye, dsb” karena ini benar-benar ngga sehat buat jiwa kita.

Di dunia yang serba modern dan cepat ini, informasi sangat mudah didapatkan. Artinya, saat kita menerima informasi dari grup sebelah, bisa loh kita cek kebenarannya dari web-web yang terpercaya. Namun balik lagi, kadang ngga ada waktu untuk ini karena kita takut menjadi orang ke-sekian dalam pencapaian penyebar berita.

Saya masih ingat benar bagaimana kericuhan ngga penting yang disebarluaskan melalui banyak grup messenger pada saat bom Sarinah. BAHKAN sampai ada birdnews (re: kabar burung) yang menyebutkan terjadi baku tembak antara pengebom dengan polisi sampai ke Semanggi. Yang paling tidak masuk akal sehat saya adalah yang men-share dengan sangat santainya polisi yang terluka sampai hampir kehilangan kakinya. Dalam pikiran saya saat itu, “Sedemikian menikmatinya kah orang Indonesia pada hal-hal yang tidak penting seperti ini?”

Saya, anda dan teman-teman sepergunduan kita sungguh bisa membuat dunia ini semakin penuh kebencian atau  lebih damai untuk dihuni. Faktor yang bisa membuat dunia ini lebih damai memang banyak. Tapi sekecil apapun usaha yang bisa kita lakukan akan lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa, rasanya. Kali ini ijinkan saya dengan kemampuan sok tahu diatas rata-rata berbagi 3 tips sederhana dengan penuh daya kesombongan.

Count until 100. 

Kalau menghitung sampai 10 rasanya banyak yang belum kembali ke kesadarannya masing-masing untuk bisa menelaah apakah informasi yang kita dapatkan bisa membahayakan orang lain. Jadi saya pilih, hitung sampai 100. PIKIR, PIKIR, PIKIR. Kalau kita sampai tidak bisa menemukan apakah ini benar atau bohong, bukankah lebih bijak untuk tidak mengklik “Copy” dan “Paste“? Ngga usah sok-sok perhatian lah, mendingan yang jomblo fokus nyari pasangan, yang punya pasangan nanyain pasangannya mau dikadoin apa ulang tahun nanti.

Bedakan Fakta dan Opini

Yang biasanya memecah persatuan dan kesatuan di grup salah satunya adalah perang opini. yang satu pendukung pasangan yang mana, ada yang mendukung pasangan yang lainnya.

ma_00077427_yjtgnj

Fakta : Gajah berkaki 4.

Opini : Si Gajah di samping ini gendut!

Please! In my opinion, (tuh udah di-note ya, harapannya ngga didebat) opini seseorang, pilihan seseorang sangat dipengaruhi masa lalu dan masa sekarang: nilai kehidupan, ajaran agama, nilai-nilai yang dianut dalam keluarga, nilai yang dipelajari selama di bangku sekolah, dan lain sebagainya. Ini akan sangat menentukan seseorang meletakkan pilihannya. Misal: Seseorang yang dibesarkan dengan nilai perempuan bisa melakukan apa saja akan cenderung bersimpati pada calon yang ada perempuannya. Atau seorang yang dibesarkan dengan nilai kebohongan adalah dosa terbesar, pasti tidak akan memberikan kesempatan kedua kepada calon pemimpin yang punya record tersangkut masalah korupsi, dan kebohongan-kebohongan lainnya. Apa yang dilalui di masa lalu mau tidak mau akan membentuk karakter dan cara pandangnya. Jadi ya, mau lo paksain kayak gimana pun, mau lo debat sampai sapi minum susu sekalipun ngga bakalan bisa ngubah pendapatnya. Bisa sih, tapi saya bilangin: cinta yang dipaksakan itu rasanya ngga asik.

Be Wise. 

Seru ya, pakai bahasa inggris. Bijak. Ini kadang yang sering kita lupakan. Wajar saja jika ada seorang pendukung yang amatir sampai skala totalitas berhamburan dalam festival politik. Saya juga tidak jarang menunjukkan keberpihakan saya pada salah satu calon. Biasanya saya tunjukkan pada grup persegunduan saja, karena udah saya pastikan isinya pendukung calon yang sama. Nah, mengenai bijak. Balik lagi tuh. Semua orang bisa aja menunjukkan keberpihakan. Wajar. Yang ngga wajar itu kalau pertunjukan keberpihakan ini menggunakan link dari web propaganda yang berbicara bukan fakta melainkan pemelintiran fakta, asumsi, dan propaganda. Saya tidak menyudutkan siapa pun ya. Balik lagi, opini dan pilihan seseorang itu dipengaruhi banyak hal. Tapi di tengah kehangatan suasana politik seperti ini, rasanya WAJIB hukumnya untuk mengecek kembali sumber yang kita gunakan untuk menunjukkan keberpihakan kita. Kalau kita menemukan mantan teman sepergunduan yang keluar dari grup karena beda pilihan calon menyebarkan berita di media sosial isinya dari web yang tidak tahu entah dari mana, udah ngga perlu didebat. Balik lagi, pilihan. Sama kan kayak teman hidup, si A lebih pilih perempuan cantik tapi ngga bisa masak, si B pilih yang bisa masak dan ngurus rumah tapi ngga terlalu cantik. Lo bayangin perasaan B kalau si A bilang: LO NYARI BINI ATAU PEMBANTU! Bayangin coba! Pedih Bro! Balik lagi seluruh nilai hidup dan pengalaman masa lalu pasti membentuk dia.

Kembali ke isu sumber informasi, kalau isinya sudah terlalu penuh pemelintiran fakta, asumsi dan segala macamnya, gunakan otak dan hatimu. Kalau otak logikamu menolak tapi hatimu sangat setuju, jangan di-share. Kemungkinan besar kamu memang cinta buta padanya. Jangan harapkan orang mengerti tentang kecintaanmu pun kebutaanmu. Lebih baik simpanlah dan nikmatilah cinta dan butamu untuk dirimu sendiri. Karena sebenarnya hal yang terintim dan terindah dalam hubungan kadang tidak harus di-share di media sosial.

Cara paling gampang memastikan bertanya kembali pada Google. Beberapa media online yang agak bisa dipertanggungjawabkan, sebutlah kompas.com mereka sudah memiliki artikel tanggapan mengenai isu hoax yang sering beredar di aplikasi perpesanan. Jadi ketik-ketik ajalah. Ngga susah.

Yak demikian lah tulisan asal mangap sore hari ini. Walaupun dalam nuansa festival Pilkada, tulisan ini semoga bisa membawa dampak di semua topik-topik lainnya. Khususnya berita-berita hoax.

Dengan ini saya sampaikan bahwa yang saya tulis ini sepenuhnya adalah opini yang pastinya sangat dipengaruhi banyak faktor seperti nilai agama katolik, perasaan sebagai minoritas cina (walaupun sedikit yang percaya kalau saya ada keturunan cina), dan perasaan gundah penuh kerinduan karena cinta terpaut ribuan mil namun sering ditanyai apakah aku masih dengannya karena tertangkap mengobrol akrab dengan lawan jenis.

Sekian. Selamat sore semua!

Happy 2nd Anniversary!

18 Februari merupakan salah satu tanggal yang istimewa buatku kini.
Di hari ini, 2 tahun yang lalu sebuah komitmen baru kubangun dengannya.

Sebuah perjalanan baru dan panjang yang terlihat melelahkan tapi ternyata menggembirakan.

Seperti menemukan belahan jiwa, dialah yang selama ini aku butuhkan namun enggan kusapa.

Seperti menemukan kekasih hati, dia kujemput dengan sejuta mimpi dan angan yang hendak aku bawa bersama ketika aku mengenalnya.

2 tahun yang lalu kuberanikan diri “menembak”nya ditengah kegopohan raga dan kerentaan pikiran.

2 tahun yang lalu, kuberanikan untuk meluangkan waktu lebih banyak bersamanya untuk bertegur sapa dan saling mengenal.

2 tahun yang lalu kuberanikan diri untuk mengabaikan segenap kehidupanku yang lama untuk berpaling padanya.

Selama 2 tahun kujalin kemesraan ini, tak jarang kita saling menyakiti..

Tak jarang saling menolak,. Tak jarang saling menggoda..
Tapi bukankah memang hubungan yang mesra bukan tanpa pertengkaran dan kekecewaan?
Tapi bukankah memang hubungan yang mesra dibangun setelah berkali-kali kecewa dan berusaha kembali atas nama kenangan yang indah, cinta dan harapan kedua insan yang dimabuk asmara?

Karena bagiku, engkau bukanlah tempat sampah-tempat menaruh hal-hal yang ingin kubuang.
Aku ingin bersamamu melewati hari dengan kondisi kita yang terbaik hingga ajal menjemput.
Semoga mulai hari ini, aku semakin setia padamu dengan segenap hati dan pikiranku karena untukku kaulah yang terbaik.

Ijinkan aku menjaga dan mencintaimu segenap hatiku.
Ijinkan aku untuk mengurangi kenakalanku “berselingkuh” sekali-kali untuk tetap kembali kepadamu.
ijinkan aku untuk meletakkanmu lebih tinggi dari egoisme-ku.

Semoga layaknya hubungan yang dijalin semakin lama, semakin matang. Semoga ombak godaan tidak lagi mengoncangkan kapal kita. Semoga perjalanan kita semakin menuju laut dalam dan tenang.
Semoga aku mempunyai komitmen untuk menyuntingmu segera sebagai bagian dari jiwa sepenuhnya.

Tahun ini kurayakan hari jadi kita dengan perayaan istimewa karena aku berharap ini menjadi awal untuk komitmen yang lebih matang antara kita berdua. Karena ini bentuk terima kasihku karena engkau selalu menjagaku.

Selamat hari jadi ke-dua tahun, tubuhku! Kiranya kita semakin bersatu bersama serta dengan pikiran yang baik.

Salam hangat,

-Jiwa yang telah lama merindukanmu kembali-